Lewati ke konten utama

Patient Safety: Budaya Keselamatan Pasien Dimulai dari Mahasiswa

1 jam yang lalu
Ditinjau oleh : Gufron Muhaimin

14 Aug 2026

"Faisal Sangadji, S.Kep., Ns., M.Kep."
Webinar kuliah pakar Patient Safety bersama Faisal Sangadji tentang budaya keselamatan pasien bagi mahasiswa kesehatan

Patient Safety: Budaya Keselamatan Pasien Dimulai dari Mahasiswa

Kuliah Pakar Mahakarya Citra Utama Dorong Mahasiswa Kesehatan Membangun Budaya Keselamatan Pasien Sejak Dini

Penulis: Faisal Sangadji, S.Kep., Ns., M.Kep.
Editor: Gufron Muhaimin

Tangerang, 7 Agustus 2026 — Mahakarya Citra Utama melalui Virtual Zoom kembali menyelenggarakan Webinar Kuliah Pakar dengan tema “Patient Safety: Budaya Keselamatan Pasien Dimulai dari Mahasiswa.” Kegiatan yang menghadirkan Faisal Sangadji, S.Kep., Ns., M.Kep. ini membahas pentingnya keselamatan pasien sebagai tanggung jawab seluruh tenaga kesehatan sekaligus menekankan bahwa budaya keselamatan perlu dibentuk sejak seseorang masih berada dalam tahap pendidikan.

Dalam pemaparannya, Faisal mengajak mahasiswa untuk memahami bahwa keselamatan pasien bukan hanya tanggung jawab dokter, perawat, rumah sakit, atau tenaga kesehatan tertentu. Setiap individu yang terlibat dalam pelayanan kesehatan, termasuk mahasiswa yang sedang menjalani praktik, memiliki peran dalam menjaga keselamatan pasien.

Mengapa Patient Safety Penting?

Keselamatan pasien menjadi bagian fundamental dalam pelayanan kesehatan karena kesalahan yang terlihat kecil sekalipun dapat menimbulkan konsekuensi serius. Materi kuliah pakar menjelaskan bahwa insiden keselamatan pasien dapat menyebabkan cedera, disabilitas, perpanjangan lama rawat, kematian, hingga kerugian finansial.

Pada bagian fakta global, materi juga menyoroti bahwa sekitar satu dari sepuluh pasien mengalami kejadian yang merugikan selama pelayanan kesehatan, sementara sebagian besar kejadian tersebut sebenarnya dapat dicegah. Salah satu faktor yang ditekankan adalah kesalahan komunikasi yang dapat berkontribusi terhadap terjadinya insiden.

Karena itu, patient safety tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai prosedur administratif, tetapi sebagai bagian dari cara berpikir dan perilaku setiap orang yang memberikan pelayanan kesehatan.

Memahami Konsep Patient Safety

Patient safety dijelaskan sebagai sistem yang membuat pelayanan kesehatan menjadi lebih aman melalui beberapa pendekatan utama, yaitu pencegahan kesalahan, pencegahan cedera, identifikasi risiko, pelaporan insiden, dan pembelajaran berkelanjutan.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keselamatan pasien tidak hanya berfokus pada apa yang dilakukan setelah terjadi kesalahan. Sistem keselamatan yang baik justru berusaha mengenali risiko sedini mungkin dan membangun mekanisme agar kesalahan yang sama tidak terus berulang.

Tujuan akhirnya adalah melindungi pasien, meningkatkan mutu pelayanan, mengurangi kesalahan, membangun budaya keselamatan, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

Budaya Keselamatan Dimulai dari Mahasiswa

Salah satu pesan utama kuliah pakar ini adalah bahwa budaya keselamatan tidak dapat dibentuk secara instan ketika seseorang sudah menjadi tenaga kesehatan profesional. Kebiasaan tersebut perlu ditanamkan sejak masa pendidikan.

Materi menekankan empat karakter dasar yang perlu mulai dibangun mahasiswa, yaitu disiplin, jujur, teliti, dan berani melapor. Mahasiswa juga diharapkan bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukan, mau belajar dari pengalaman, tidak menutupi kesalahan, berani bertanya ketika ragu, dan berani mengingatkan apabila menemukan potensi risiko terhadap pasien.

Dengan demikian, mahasiswa bukan sekadar peserta didik yang mengamati pelayanan klinis. Mereka juga sedang membentuk kebiasaan profesional yang nantinya akan menentukan bagaimana mereka bertindak ketika memiliki tanggung jawab klinis yang lebih besar.

Prinsip Utama Budaya Keselamatan

Faisal memperkenalkan sejumlah prinsip yang menjadi dasar budaya keselamatan pasien, yaitu safety first, no blame culture, open communication, teamwork, dan continuous improvement.

Safety first berarti keselamatan pasien harus menjadi prioritas dalam setiap tindakan. Sementara itu, no blame culture menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang mendorong pelaporan dan pembelajaran dari insiden tanpa menjadikan budaya saling menyalahkan sebagai respons utama.

Komunikasi terbuka dan kerja sama tim juga menjadi bagian penting karena pelayanan kesehatan melibatkan banyak profesi dan tahapan pelayanan. Budaya keselamatan kemudian harus dilanjutkan dengan continuous improvement, yaitu upaya memperbaiki sistem dan praktik secara terus-menerus berdasarkan pembelajaran dari risiko maupun insiden yang ditemukan.

Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien

Dalam materi kuliah pakar, terdapat tujuh langkah yang dapat menjadi kerangka membangun keselamatan pasien:

  1. Membangun budaya keselamatan.

  2. Memimpin dan mendukung staf.

  3. Mengintegrasikan manajemen risiko.

  4. Membangun sistem pelaporan.

  5. Belajar dari insiden.

  6. Melibatkan pasien.

  7. Mencegah cedera.

Ketujuh langkah tersebut menunjukkan bahwa patient safety membutuhkan pendekatan sistematis. Keselamatan pasien bukan hanya persoalan ketelitian individu, tetapi juga berkaitan dengan kepemimpinan, sistem organisasi, manajemen risiko, komunikasi, serta kemampuan organisasi belajar dari kejadian yang telah terjadi.

Sasaran Keselamatan Pasien yang Perlu Dipahami Mahasiswa

Mahasiswa yang menjalani praktik klinis perlu memahami sasaran keselamatan pasien dan menerapkannya dalam aktivitas sehari-hari. Materi kuliah pakar menyoroti beberapa aspek penting, yaitu:

  • Identifikasi pasien secara tepat.

  • Komunikasi efektif, termasuk penggunaan metode SBAR.

  • Keamanan obat, terutama perhatian terhadap High Alert Medication dan obat Look Alike Sound Alike (LASA).

  • Ketepatan lokasi, prosedur, dan pasien operasi, termasuk verifikasi identitas, time out, dan checklist operasi.

  • Pencegahan infeksi, melalui hand hygiene, penggunaan APD sesuai indikasi, dan teknik aseptik.

  • Pencegahan pasien jatuh, melalui penilaian risiko, edukasi keluarga, dan pengamanan lingkungan.

Bagi mahasiswa, penerapan sasaran tersebut tidak seharusnya menunggu sampai mereka menjadi tenaga kesehatan penuh. Justru masa pendidikan merupakan waktu yang tepat untuk membentuk kebiasaan kerja yang konsisten.

Memahami Penyebab Terjadinya Insiden

Materi juga menjelaskan bahwa insiden keselamatan pasien dapat dipengaruhi oleh faktor manusia maupun faktor sistem.

Faktor manusia antara lain kelelahan, kurangnya pengetahuan, dan kurang fokus. Sementara faktor sistem mencakup SOP yang tidak jelas, beban kerja yang tinggi, dan komunikasi yang buruk.

Pembagian tersebut penting karena kesalahan pelayanan tidak selalu dapat dijelaskan hanya dengan menyalahkan individu. Dalam banyak situasi, perilaku individu berinteraksi dengan kondisi lingkungan dan sistem tempat pelayanan berlangsung.

Hal tersebut dijelaskan melalui Swiss Cheese Model, yang menggambarkan bahwa setiap lapisan pertahanan keselamatan memiliki celah atau “lubang”. Ketika celah pada berbagai lapisan tersebut berada dalam satu garis, peluang terjadinya insiden menjadi semakin besar.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Mahasiswa

Dalam praktik klinis, terdapat sejumlah kesalahan yang perlu diwaspadai mahasiswa, seperti tidak melakukan cuci tangan, tidak melakukan identifikasi pasien, tidak membaca SOP, tidak melakukan konfirmasi obat, terlambat melakukan dokumentasi, dan tidak melaporkan kejadian.

Kesalahan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi justru kebiasaan kecil seperti inilah yang dapat menjadi celah dalam sistem keselamatan pasien. Oleh sebab itu, membangun disiplin terhadap prosedur dasar menjadi bagian penting dari pendidikan profesional.

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Melakukan Kesalahan?

Faisal menekankan bahwa ketika mahasiswa melakukan kesalahan, langkah yang tepat bukanlah menyembunyikannya. Mahasiswa perlu tetap tenang, melaporkan kejadian kepada clinical instructor (CI) atau preseptor, melakukan dokumentasi, tidak menyembunyikan kesalahan, dan menjadikannya sebagai bahan pembelajaran.

Pendekatan ini penting untuk membangun lingkungan belajar yang aman. Kesalahan yang dilaporkan dapat menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi risiko dan memperbaiki sistem, sedangkan kesalahan yang disembunyikan justru dapat membuat risiko berulang tanpa diketahui.

Peran Mahasiswa dalam Patient Safety

Dalam pelayanan klinis, mahasiswa memiliki beberapa peran, yaitu sebagai observer, learner, communicator, team member, dan patient advocate.

Sebagai observer, mahasiswa belajar mengamati proses pelayanan dengan cermat. Sebagai learner, mahasiswa terus mengembangkan kompetensi. Sebagai communicator, mahasiswa perlu menyampaikan informasi secara tepat. Sebagai team member, mahasiswa belajar bekerja bersama tenaga kesehatan lain. Sementara sebagai patient advocate, mahasiswa turut memperhatikan kepentingan dan keselamatan pasien selama menjalankan perannya sesuai kewenangan.

Kebiasaan Kecil yang Membentuk Profesionalisme

Budaya keselamatan pada akhirnya dibangun melalui kebiasaan sehari-hari. Materi kuliah pakar mendorong mahasiswa untuk membiasakan diri datang tepat waktu, membaca rekam medis, melakukan double check, menerapkan hand hygiene, bertanya ketika ragu, dan melakukan dokumentasi secara lengkap.

Kebiasaan tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi konsistensi dalam menjalankannya dapat menjadi fondasi profesionalisme. Dalam pelayanan kesehatan, ketelitian terhadap hal-hal dasar sering kali menjadi salah satu lapisan pertahanan pertama terhadap risiko.

Membangun Budaya Speak Up

Salah satu aspek penting dalam keselamatan pasien adalah keberanian untuk speak up. Mahasiswa perlu berani menyampaikan apabila menemukan potensi masalah seperti salah pasien, salah obat, salah prosedur, risiko jatuh, atau risiko infeksi.

Keberanian berbicara bukan berarti mahasiswa mengambil alih kewenangan tenaga kesehatan lain. Sebaliknya, speak up merupakan bentuk tanggung jawab profesional untuk menyampaikan potensi risiko melalui jalur komunikasi yang tepat.

Budaya seperti ini membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mahasiswa bertanya dan menyampaikan kekhawatiran tanpa takut dipermalukan atau diabaikan.

Keselamatan Pasien Adalah Tanggung Jawab Bersama

Pada bagian penutup, kuliah pakar menegaskan bahwa patient safety merupakan tanggung jawab semua orang yang terlibat dalam pelayanan kesehatan. Budaya keselamatan harus dimulai sejak mahasiswa, dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil, serta diperkuat dengan komunikasi dan kerja sama tim.

Pesan tersebut menjadi penting bagi mahasiswa kesehatan karena kualitas tenaga kesehatan di masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan klinis yang dikuasai, tetapi juga oleh bagaimana mereka membangun kebiasaan aman, bertanggung jawab, komunikatif, dan terbuka terhadap pembelajaran.

Dengan demikian, budaya keselamatan pasien bukan sesuatu yang baru dimulai ketika seseorang bekerja di rumah sakit. Budaya tersebut dimulai dari ruang kelas, laboratorium keterampilan, lingkungan praktik, dan dari setiap keputusan kecil yang dibuat mahasiswa dalam memperlakukan pasien.

Link Youtube: https://youtu.be/GiLvtUscxP8

Referensi :
  • Phillips, J., Malliaris, A. P., & Bakerjian, D. (2021). Nursing and patient safety. Nursing and Patient Safety.

  • Sherwood, G., & Barnsteiner, J. (Eds.). (2021). Quality and safety in nursing: A competency approach to improving outcomes. John Wiley & Sons.

  • Mihdawi, M., Al-Amer, R., Darwish, R., Randall, S., & Afaneh, T. (2020). The influence of nursing work environment on patient safety. Workplace Health & Safety, 68(8), 384–390.

  • Li, L. Z., Yang, P., Singer, S. J., Pfeffer, J., Mathur, M. B., & Shanafelt, T. (2024). Nurse burnout and patient safety, satisfaction, and quality of care: A systematic review and meta-analysis. JAMA Network Open, 7(11), e2443059.

  • Zaitoun, R. A., Said, N. B., & de Tantillo, L. (2023). Clinical nurse competence and its effect on patient safety culture: A systematic review. BMC Nursing, 22(1), 173.

Hubungi Kami