09 Feb 2026
9
0
Penulis: Dr. Budi Astyandini, S.SiT., M.Kes
Editor: Gufron Muhaimin
Tangerang, 13 November 2025 — Mahakarya Citra Utama melalui platform Zoom Virtual kembali menyelenggarakan kegiatan Webinar Kuliah Pakar dengan tema “Kesehatan Reproduksi Remaja.”
Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dr. Budi Astyandini, S.SiT., M.Kes, yang membahas secara mendalam dinamika kesehatan reproduksi pada remaja, faktor risiko yang memengaruhi, serta strategi pencegahan melalui edukasi dan keterlibatan berbagai pihak.
Dr. Budi menjelaskan bahwa masa remaja merupakan periode peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa, yang ditandai dengan perubahan biologis, psikologis, dan sosial.
Menurut World Health Organization (WHO), remaja adalah individu berusia 10–19 tahun. Fase ini diawali oleh pubertas, yang ditandai dengan pertumbuhan fisik yang cepat, kematangan seksual, serta perubahan hormonal.
Pada tahap ini, remaja kerap mengalami kebingungan identitas—di satu sisi masih dianggap anak-anak, namun di sisi lain dituntut bersikap dewasa—sehingga menjadi kelompok yang rentan terhadap masalah kesehatan reproduksi jika tidak dibekali pengetahuan yang memadai.
Kesehatan reproduksi didefinisikan sebagai kondisi sehat secara fisik, mental, dan sosial yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi, serta bebas dari penyakit maupun kecacatan.
Dr. Budi menekankan bahwa kesehatan reproduksi remaja tidak hanya berkaitan dengan aspek biologis, tetapi juga mencakup pemahaman tentang:
Perubahan tubuh saat pubertas
Kebersihan organ reproduksi
Perilaku seksualitas yang sehat
Kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab
Pendekatan yang komprehensif ini penting agar remaja mampu menjaga kesehatan reproduksinya dalam jangka panjang.
Dalam pemaparannya, Dr. Budi menguraikan tiga aspek utama kesehatan reproduksi remaja, yaitu:
Pubertas dan Perubahan Fisik, seperti menstruasi pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki, serta tanda-tanda pubertas lainnya.
Kebersihan dan Gaya Hidup, yang meliputi perawatan organ reproduksi, konsumsi gizi seimbang, aktivitas fisik rutin, dan pengelolaan stres.
Pendidikan dan Pencegahan, melalui informasi yang benar tentang seksualitas, penghindaran perilaku berisiko, serta pemahaman pencegahan Infeksi Menular Seksual (IMS).
Ketiga aspek ini saling berkaitan dan menjadi dasar dalam membangun perilaku reproduksi yang sehat pada remaja.
Kesehatan reproduksi remaja memiliki peran strategis dalam mencegah berbagai permasalahan, antara lain:
Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD)
Aborsi tidak aman
Perkawinan dan pernikahan dini
Infeksi Menular Seksual (IMS), termasuk HIV/AIDS
Dr. Budi menegaskan bahwa edukasi yang tepat dapat membantu remaja memahami perubahan tubuhnya, menjaga kesehatan organ reproduksi, serta membuat keputusan yang sehat dan bertanggung jawab terkait seksualitas.
Beberapa faktor yang memengaruhi kesehatan reproduksi remaja antara lain:
Sosial, ekonomi, dan demografi, seperti kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, dan kurangnya pengetahuan tentang reproduksi.
Budaya dan lingkungan, termasuk praktik tradisional yang berdampak negatif dan informasi yang menyesatkan.
Psikologis, seperti konflik keluarga, depresi, serta paparan media yang tidak terkontrol.
Biologis, meliputi kelainan bawaan dan gangguan hormonal.
Faktor-faktor tersebut dapat saling berinteraksi dan meningkatkan risiko masalah kesehatan reproduksi jika tidak ditangani secara tepat.
Dr. Budi menyoroti paparan informasi global dan media digital yang semakin mudah diakses sebagai salah satu pemicu perilaku tidak sehat pada remaja, seperti merokok, konsumsi alkohol, penyalahgunaan obat, dan tawuran.
Perilaku ini secara kumulatif dapat mempercepat usia awal aktivitas seksual. Masalah utama yang dihadapi adalah rendahnya tingkat pengetahuan remaja serta keterbatasan akses terhadap informasi dan layanan kesehatan reproduksi yang akurat.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, tercatat 25,8% kehamilan terjadi pada remaja usia 15–19 tahun. Studi juga menunjukkan sekitar 60% remaja memiliki pengetahuan yang kurang tentang kesehatan reproduksi.
Selain itu, data PKBI Jawa Tengah menunjukkan peningkatan kasus hubungan seksual pranikah, kehamilan pranikah, IMS, dan aborsi hanya dalam kurun waktu satu tahun, yang mengindikasikan urgensi penanganan masalah kesehatan reproduksi remaja secara serius dan berkelanjutan.
Sebagai langkah pencegahan, Dr. Budi menekankan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi yang mencakup:
Perawatan organ reproduksi
Pemahaman pubertas dan perkembangan remaja
Dampak pornografi
Risiko KTD, aborsi, HIV/AIDS, dan IMS
Pendewasaan usia pernikahan
Upaya ini perlu melibatkan peran aktif pemerintah melalui program PKPR, orang tua, serta peer group (teman sebaya) agar pesan kesehatan dapat diterima secara efektif oleh remaja.
Kuliah pakar ini menegaskan bahwa kesehatan reproduksi remaja merupakan isu multidimensi yang membutuhkan pendekatan edukatif, preventif, dan kolaboratif.
Melalui edukasi yang tepat dan keterlibatan berbagai pihak, remaja diharapkan mampu memahami tubuhnya, menjaga kesehatan reproduksi, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab demi masa depan yang sehat dan berkualitas.
Sebagai penutup, Dr. Budi menyampaikan pantun motivatif:
“Malam bercahaya kunang-kunang,
Buah sukun buah pepaya.
Yang rajin akan menang,
Yang tekun akan berjaya.”
World Health Organization. (2010). Adolescent Health. Survei Kesehatan Indonesia (SKI). (2023). PKBI Jawa Tengah. Data Kesehatan Reproduksi Remaja. Astyandini, B., dkk. Asuhan Kebidanan pada Masa Remaja Pranikah dan Prakonsepsi. MCU. Astyandini, B., dkk. Buku Asuhan Kebidanan pada Remaja dan Perimenopause. MCU.
Materi Webinar Kuliah Pakar Mahakarya Citra Utama, 2025