09 Feb 2026
0
0
Penulis: Ns. Mad Zaini, M.Kep., Sp.Kep.J
Editor: Gufron Muhaimin
Tangerang, 28 November 2025 — Mahakarya Citra Utama melalui platform Zoom Virtual kembali menyelenggarakan Webinar Kuliah Pakar dengan tema “Kesehatan Mental.”
Kegiatan ini menghadirkan Ns. Mad Zaini, M.Kep., Sp.Kep.J, perawat spesialis keperawatan jiwa, yang membahas konsep kesehatan mental, faktor risiko dan protektif, serta langkah-langkah praktis menjaga kesehatan mental dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pemaparannya, Ns. Mad Zaini menyoroti data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang menunjukkan bahwa prevalensi depresi di Indonesia masih cukup signifikan dan bervariasi berdasarkan karakteristik individu seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan status ekonomi.
Data ini menegaskan bahwa masalah kesehatan mental bukan isu individual semata, melainkan persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius dan berkelanjutan.
Sehat mental tidak hanya dimaknai sebagai ketiadaan gangguan jiwa, tetapi sebagai kondisi di mana seseorang mampu:
Berfungsi secara produktif
Merasa bersyukur dan bahagia
Memiliki sikap optimis
Berpikir positif terhadap diri sendiri dan orang lain
Menghadapi tantangan hidup
Berperan aktif di lingkungan
Memiliki landasan spiritual yang baik
Kesehatan mental menjadi fondasi penting bagi kualitas hidup dan kesejahteraan individu.
Ns. Mad Zaini menegaskan bahwa sehat jiwa dan sakit jiwa bukanlah dua sisi mata uang yang saling bertentangan. Dalam perjalanan hidupnya, seseorang dapat mengalami kondisi sehat mental, masalah kesehatan jiwa, hingga gangguan jiwa secara silih berganti, tergantung pada tekanan hidup dan kemampuan koping yang dimiliki.
Masalah kesehatan jiwa tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses bertahap yang dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, dan sosial.
Kesehatan mental seseorang dipengaruhi oleh dua kelompok faktor utama, yaitu faktor protektif dan faktor risiko.
Faktor risiko meliputi:
Faktor biologis, seperti ketidakseimbangan kimia otak, kondisi medis tertentu, penggunaan zat adiktif, dan faktor genetik.
Faktor psikologis, antara lain trauma masa kecil, stres berat atau berkepanjangan, pola pikir negatif, kehilangan, dan kegagalan.
Faktor sosial dan lingkungan, seperti kemiskinan, pengangguran, minimnya dukungan sosial, lingkungan yang tidak aman, serta diskriminasi.
Interaksi berbagai faktor tersebut dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap gangguan kesehatan mental.
Peristiwa yang tidak diinginkan, tidak direncanakan, atau tidak terduga dapat memicu perubahan emosi seperti sedih, takut, marah, dan kecewa. Kondisi ini berpengaruh pada keseimbangan sistem saraf pusat, khususnya neurotransmiter seperti dopamin, norepinefrin, serotonin, dan kortisol.
Ketidakseimbangan zat-zat kimia tersebut berhubungan dengan munculnya berbagai gangguan, seperti depresi, kecemasan, gangguan tidur, hingga skizofrenia.
Dalam kuliah pakar ini, Ns. Mad Zaini mengelompokkan gangguan jiwa menjadi dua kategori utama, yaitu:
Gangguan Psikotik, seperti skizofrenia, psikotik akut, dan gangguan waham.
Gangguan Afektif, yang meliputi mania, depresi, dan gangguan bipolar.
Pemahaman jenis gangguan jiwa penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan mendorong pencarian bantuan secara tepat.
Sebagai upaya preventif, Ns. Mad Zaini membagikan beberapa strategi praktis menjaga kesehatan mental, antara lain:
Menjaga pola pikir, dengan menyadari bahwa pikiran cenderung mencari informasi yang menguatkan keyakinan yang sudah ada.
Menghindari prasangka buruk, serta membiasakan afirmasi dan harapan positif.
Menyelipkan waktu untuk relaksasi, melakukan aktivitas yang menenangkan dan membahagiakan.
Menjalin silaturahmi, saling berbagi cerita, dukungan emosional, dan memanfaatkan media sosial secara positif.
Memberikan manfaat kepada sesama, yang terbukti dapat meningkatkan makna hidup dan kesejahteraan psikologis.
Pendekatan ini menekankan bahwa kesehatan mental dapat dijaga melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Kuliah pakar ini menegaskan bahwa kesehatan mental merupakan bagian tak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh. Upaya menjaga kesehatan mental membutuhkan kesadaran diri, dukungan sosial, serta lingkungan yang kondusif.
Sebagai penutup, Ns. Mad Zaini menyampaikan pantun motivatif:
“Ke pasar membeli jamu,
Jamu diminum segar rasanya.
Kalau hati sedang pilu,
Cari dukungan, itu tandanya kita manusia.”
Fadkhurosi, A., Cikal, R. A., & Cahya Ningrum, A. N. (2023). Trend Penelitian Kesehatan Mental Tahun 2022–2023 di Indonesia: Analisis Bibliografi. Sosioedukasi. Hall, C. E., et al. (2023). Community Resilience and Social Capital on Mental Health. BMC Public Health. Pasaribu, R. O., et al. (2023). Pelayanan Kesehatan Jiwa dan Faktor yang Mempengaruhinya di Puskesmas. MPPKI.
Materi Webinar Kuliah Pakar Mahakarya Citra Utama, 2025